This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
16 May, 2012 - 10:41

Kejahatan Perang Berpengaruh Mendalam bagi Hakim

Proses peradilan mantan jenderal Serbia Bosnia Ratko Mladic berlangsung Rabu ini di Tribunal Pidana Internasional untuk Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda. Hakim Alphons Orie harus lebih dahulu menyingkirkan kendala besar sebelum proses peradilan bisa diawali. Orie, satu-satunya hakim ICTY yang berasal dari Belanda, serta merta dituduh memihak.

Alphons Orie (64) adalah seorang hakim pragmatis dan sangat serius yang hati-hati dalam berbicara ketika ditanya komentarnya tentang tugasnya di Tribunal. Meski ia menolak berkomentar langsung tentang  peradilan Mladic, dengan semangat ia membela pekerjaannya di ICTY dalam wawancara dengan sebuah koran Belanda The Dutch Daily.

"Tujuan utama tribunal kami adalah mengakhiri impunitas," katanya. "Dulu para diktator dan pengikutnya yang melakukan pembunuhan, sering bebas dari hukuman. Sistem peradilan pidana internasional ini memastikan, bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi."

Srebrenica
Awal minggu ini, presiden Tribunal Yugoslavia membantah tuduhan yang mengatakan, bahwa keputusan-keputusan yang diambil Orie di masa silam bisa mempengaruhi kemampuannya untuk menangani kasus Mladic secara jujur.

Tribunal juga menampik argumen pengacara yang mengatakan, Orie yang berkebangsaan Belanda itu, tidak akan netral. 

Peradilan ini akan memusatkan perhatian pada peranan komandan Tentara Serbia Bosnia itu dalam pengepungan Srebrenica, kawasan yang dinyatakan aman oleh PBB. Pada peristiwa yang terjadi di tahun 1995 itu, 8000 pria muslim, dewasa dan anak-anak, dibantai.

Kawasan itu semestinya dijaga oleh pasukan perdamain PBB berasal dari Belanda, tapi kontingen Belanda ini malah membiarkan perbuatan tentara Mladic. 

Presiden Tribunal juga mengatakan, tim pembela Mladic gagal menguatkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa Orie, yang sebenarnya adalah seorang yang bersikap wajar dan banyak mengetahui informasi itu, bisa bersikap tidak netral.

Pria terbaik
Dulu banyak orang berpendapat, vonis bakal menguntungkan hakim Belanda ini. Tahun lalu Mischa Wladimiroff, mantan sejawat Orie, pernah mengatakan kepada Radio Nederland, kebangsaan Belandanya si hakim tidak relevan bagi peradilan  Mladic. Ia menambahkan, Orie dulu adalah orang terbaik untuk pekerjaan ini.

Alphons Orie lahir di Groningen, Belanda Utara, pada pada 1947. Ia studi hukum di Universitas Leiden dan meraih titelnya pada 1971. Salah satu puncak karirnya sebagai pengacara adalah saat ia membela Dusko Tadic, seorang tersangka pejahat perang kelas bawah di ICTY. Kasus seperti ini, menurut Orie, sekarang tidak diadili lagi di Den Haag, karena tribunal sekarang hanya menangani para pemegang peranan utama dalam perang saudara di Yugoslavia.

Pada 1997, Alphons Orie menjadi hakim Mahkamah Agung Belanda. Ia dipilih sebagai hakim di  ICTY pada 2001. Ia dikenal sebagai orang yang kurang sabar terhadap peradilan pidana internasional yang bertele-tele. Ketidaksabaran ini mungkin bisa bermanfaat bagi peradilan Mladic yang ekstensif yang dipimpinnya. 

Mladic dituduh melakukan 106 kasus kejahatan, termasuk genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.  Ratusan saksi akan dipanggil.

Dingin
Hakim Orie kadang-kadang melanggar kebiasaan sistem hukum Anglo-Saxon yang selama ini mendominasi ICTY, termasuk kebiasaan mengintrogasi para saksi  yang dilakukan hakim di pengadilan Belanda. Menurut pakar, cara ini bisa membuat ICTY bekerja lebih efisien.

Tapi profesionalisme Orie bisa dilihat dari reaksinya yang dingin terhadap koran Belanda Dutch Reformed Daily ketika ditanya perasaannya tentang kemungkinan bahwa para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan bisa dibebaskan:

"Apakah saya benci kepada si tersangka atau merasa kasihan terhadapnya itu sangat sekunder bagi peranan saya. Saya tidak mengeluarkan vonis dalam keadaan marah. Saya harus  mempertimbangkan pembuktisan secara rasional. Itulah yang dituntut dari seorang hakim yang netral," kata Orie.

Ia menambahkan, meski ia kadang-kadang sangat terganggu oleh grafik tindak kriminalitas yang terjadi, tapi ia tidak melek sepanjang malam untuk memikirkan detil sebuah peradilan. Namun demikian "Ini tidak berarti saya tidak sensitif terhadap kejahatan," kata Orie. "Dampak kasus-kasus ini sangat mendalam."