This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
22 May, 2012 - 09:03

Bersiap Sebelum Masuk Lubang Tambang

Bersiap sebelum masuk lubang tambang  data/files/bersiap_sebelum_masuk_lubang_tambang.jpg

Di Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, nyawa anak-anak seperti tak ada harganya. Di usia muda, mereka harus siap tertimpa tumpukan tanah karena bekerja di dalam lubang tambang emas. Sekolah mereka tinggalkan. Ancaman kematian bisa datang sewaktu-sewaktu.

Reporter KBR68H Ikhsan Raharjo menemui seorang gurandil cilik atau penambang emas, ikut menuruni lubang tambang sedalam puluhan meter.
"Halo nama saya Cecep umur saya 14 tahun. Sekarang Cecep ada di lubang tempat bekerja mencari emas. Dalamnya paling 20 meter. Tempat saya kerja di sini." Cecep Khaerudin adalah buruh tambang emas tradisional dari Desa Malasari, Bogor, Jawa Barat.
Ruang kerja Cecep adalah terowongan tanah yang lebarnya kira-kira setengah meter.  Bekerja di dalam tanah Gunung Pongkor, timbunan batu dan tanah bisa menimpa bocah itu sewaktu-waktu.
Emas
Di Desa Malasari, beberapa warga membuka bisnis jual-beli emas dari para buruh tambang. Sebelum transaksi dilakukan, butiran emas itu harus melewati proses terakhir yaitu pembakaran. Cecep mengoperasikan sendiri alat pembakaran emas di rumah tetangganya.
Proses pembakaran memakan waktu sekitar lima menit. Setelah itu butiran emas ditumbuk dan ditimbang.
Penghasilan Cecep dari menambang emas sangat diharapkan keluarganya. Di rumah, Cecep tinggal dengan orang tua dan satu adik perempuan.
Ami, ibu Cecep, mengakui kalau anak laki-lakinya itu sudah bekerja sejak umur sepuluh tahun. Kemiskinan yang membuat bocah itu harus berani menghadapi resiko kematian di dalam tambang.
"Habis bagaimana lagi? Saya orang tidak punya. Kalau ditanya takut, ya saya takut. Saya tidak tega lihat Cecep pulang dari tempat tambang. Saya kadang pikir, 'Kasihan si Cecep masih kecil.' Saya sering menangis di dalam hati. Tapi bagaimana lagi? Ini saya saja baru pulang kerja dari sawah. Tapi itu sawah bukan punya saya. Itu sawah adik. Saya kerja di sana."
Penghasilan Ami sebagai buruh tani tak cukup untuk keluarganya.
Pencari nafkah
Setahun belakangan, beban Cecep semakin berat. Dia harus menggantikan peran ayahnya sebagai pencari nafkah. Ini karena ayah Cecep mulai sakit-sakitan. Tiap bulan sekali berobat. Kalau tidak punya uang pinjam tetangga.
Di lokasi tambang, Cecep bekerja hampir seminggu penuh. Ini sebabnya berulangkali bocah 14 tahun itu terserang penyakit Tifus. Begitu ungkap Ami, ibunda Cecep.
"Dia pernah kena penyakit Tifus. Dokter suruh berobat jalan. Tapi dari mana coba biayanya? Paling saya beli obat di warung waktu dia kena tifus. Barangkali dia terlalu capek kerja di tambang, jadinya kena tifus. Badannya belum kuat."
Selain jatuh sakit, pekerjaan Cecep telah membuatnya harus kehilangan waktu bersekolah. Dia pun harus mengubur cita-citanya.
"Sekarang saya cita-citanya ingin jadi tentara tapi tidak kesampaian. Seru pokoknya mah. Jalan-jalan ke hutan. Lompat-lompat. Senang saja lihatnya."
Sekolah
Tuntutan mencari uang juga menjauhkan Cecep Khaerudin dari bangku sekolah. Terakhir kali dia sekolah adalah sebulan yang lalu. "Karena tidak punya biaya buat jalannya," kata Cecep.
Di SDN Malasari 04, Kampung Kopo, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Cecep terdaftar sebagai pelajar kelas 2 SMP Terbuka.
Guru di sekolah Cecep telah berkali-kali membujuk keluarganya agar mengizinkan dia kembali belajar. Namun, menurut guru Arsudin, bujukan itu tak mempan.
"Kendalanya itu terutama satu. Anak terpengaruh keadaan lingkungan yang serba punya mobil atau motor sehingga dia tidak memikirkan sekolah. Terutama wali murdinya. Karena wali muridnya tidak mengerti pendidikan yang akhirnya mereka mementingkan terjun ke usaha."
Cita-cita
Entah sampai kapan Cecep harus turun ke perut bumi, menambang emas. Sekolah ia tinggalkan, cita-cita ia kesampingkan. Tapi Cecep merasa ini adalah bagian dari tanggung jawabnya di keluarga.
"Senang bisa nyenangin orang tua. Nyenengin adik buat biaya sekolah. Saya juga ikut senang."