This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
25 May, 2012 - 14:39

Kisah Dibalik Aksi Bakar Diri Warga Belanda

  data/files/jaktease_0.jpg

Pria Belanda yang melakukan aksi bakar diri di depan Kedubes Belanda di Jakarta diduga menderita halusinasi; ia merasa dirinya terus dikejar-kejar. Meski begitu, sistem pengelolaan data tunjangan sosial Belanda di luar negeri juga ikut berperan dalam aksi tersebut.
 
Albert Johannes Cornelis Ekelmans (69) menghembuskan nafas terakhir pada 7 Mei 2012, tiga hari setelah aksi bakar diri di depan Kedubes Belanda di Jakarta. Diketahui bahwa Ekelmans melakukan bakar diri karena tidak lagi mendapat tunjangan sosial (AOW) dari pemerintah Belanda.
 
Kisah yang janggal
Tunjangan sosialnya diduga dihentikan karena Ekelmans tidak memiliki alamat tinggal tetap. Kisah yang janggal dibalik aksi bakar diri ini akhirnya terungkap berkat harian Jawa Pos salah satunya. Semasa hidupnya Ekelmans merasa ketakutan akan mati dibunuh. Karena alasan tersebut ia mengganti alamat rumahnya setiap bulan.
 
Sepuluh tahun silam Ekelmans adalah kordinator sebuah proyek rumah kaca di Bali. Ketika itu para petani lokal harus belajar memproduksi tanaman ekspor berkualitas dengan teknologi pertanian terbaru. Dalam proyek bergengsi tersebut para investor Belanda dan Indonesia menanamkan modal sebesar 10 juta dollar.
 
Menurut harian Jawa Pos, Ekelmans kemudian menghadapi konflik dengan seorang pengusaha korup. Pengusaha tersebut diduga memiliki hubungan dengan kaum ekstremis dan akrab dengan tindak kekerasan. Waktu itu Ekelmans telah menetap di Indonesia selama 10 tahun dan beristrikan perempuan Indonesia. Ia meninggalkan Bali tanpa peduli yang terjadi dengan istri dan anaknya di kemudian hari. 
 
Halusinasi
beberapa tahun yang lalu Ekelmans menetap di Jakarta. Ia terus dihantui rasa takut karena menurutnya pihak kepolisian dan pejabat berwenang setempat berkomplot dengan mafia Bali. Ia menuduh mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisinya karena mengetahui banyak hal.
 
Menurut Ekelmans, konjen Belanda di Denpasar juga mengetahui praktik korupsi sang pengusaha, tapi tidak berbuat apa-apa. Karena itulah ia tidak percaya lagi dengan Kedubes Belanda di Jakarta.
 
Paranoid? Dalam kasus Ekelmans, “kebenaran dan kisah rekaan sangat mirip satu sama lain”, tulis harian Jawa Pos. “Namun kalau memang cuma setengahnya yang benar, sudah cukup untuk memahami situasi yang dihadapi Ekelmans”.
 
Kontrol data
Penghentian tunjangan sosial (AOW) dari pemerintah Belanda adalah pemicu akhirnya. “Kami benar-benar mati kelaparan dan kehausan”, tulis Ekelmans dalam salah satu suratnya kepada lembaha-lembaga Belanda. Jadi, dugaan bahwa ia tidak menerima tunjangan karena tidak punya alamat tetap tidak sepenuhnya benar.
 
Tunjangan sosial (AOW) bukanlah tunjangan yang diterima secara otomatis, namun hak yang dibangun dan tidak bisa diambil begitu saja. Seorang juru bicara Bank Tunjangan Sosial Belanda (SVB) menegaskan bahwa dalam pemberian tunjangan sosial (AOW) di luar negeri diberlakukan “syarat-syarat penertiban” jika diperlukan. 
 
“Harus ada kontrol yang ketat”, kata sang juru bicara. “Dengan begitu, kita bisa menetapkan apakah seseorang masih hidup atau tidak tinggal bersama partnernya”. Jika seseorang tidak memiliki alamat tinggal tetap, kontrol tersebut akan menjadi sulit. Namun menurut SVB, tidak ada yang yang mustahil.
 
Jangan dihentikan begitu saja
“Dalam kasus-kasus semacam ini, kami berupaya menyelesaikan semampu kami. Di Belanda, biasanya diselesaikan dengan cara orang itu harus lapor diri secara teratur ke kator kami. Setelah itu baru tunjangan diberikan. Namun tentu saja kami tidak punya kantor perwakilan di luar negeri.”
 
Di Indonesia, SVB beroperasi lewat para petugas kontrol. Para petugas ini terus berhubungan dengan orang-orang Belanda yang meminta tunjangan sosial (AOW) dan membantu mereka mengisi formulir “bukti hidup”. Namun para petugas kontrol bekerja di bawah perintah kedutaan. Warga Belanda yang tidak memiliki alamat tetap juga diminta lapor diri di kedutaan.
 
Justru hal ini yang membuat masalah Ekelmans menjadi rumit dan berakhir tragis. Ekelmans tidak mempercayai pihak Kedubes Belanda dan tetap ketakutan diserang. Karena itu ia menolak datang ke kedutaan untuk membuktika dirinya berhak menerima tunjangan sosial (AOW). Penghentian tunjangan sosial adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
 
Surat-surat diabaikan
Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab: Apakah aksi bakar diri Ekelmans dapat dicegah sebelumnya? Berminggu-minggu sebelum melakukan aksinya, Ekelmans sempat menulis banyak surat, salah satunya kepada Perdana Menteri Rutte. Tidak ada satu pun surat yang dibalas. Ketika kasus Ekelmans akhirnya muncul ke permukaan, semuanya sudah sangat terlambat.