This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
1 June, 2012 - 11:12

Kasus Penjualan Organ Tubuh Ilegal Meningkat

  data/files/ginjal_manusia.jpg

Setiap seperempat-jam Pavle Mircov dan teman hidupnya Daniella mencek e-mail mereka. Apakah ada yang mau membayar € 30.000,- untuk ginjal mereka.
Pavle dan Daniella yang punya dua anak remaja, menawarkan ginjal mereka lewat internet enam bulan lalu setelah Pavle (50 tahun) dipecat sebagai karyawan pabrik daging. Upayanya untuk mencari pekerjaan tidak pernah berhasil sekalipun sebagai pelayan restoran.
Pavle juga tidak bisa mengubur ayahnya yang baru meninggal dunia, karena tidak bisa membayar biaya penguburan. Hubungan telepon diputus. Mereka tinggal dalam rumah tanpa tanpa listrik, karena rekening listrik tidak dibayar. Makan, sehari sekali saja. Makan roti dengan salami, termasuk mewah. "Kalau sampai tidak bisa beli makanan, jual ginjal bukan pengorbanan yang berat," kata Pavle Mircov.
"Jual Organ Tubuh Ilegal Meningkat, Karena Tidak Ada Pekerjaan. Transaksi Gelap Ginjal Lewat Internet Meningkat Di Eropa," demikian berita utama koran berbahasa Inggris The International Herald Tribune.

Menyebar ke Eropa
Sementara Eropa semakin dililit krisis ekonomi, perdagangan gelap organ tubuh manusia yang dulu 'hanya' terjadi di India, Pilipinna, Brazil atau Cina, kini menyebar ke negara-negara Eropa yang dirongrong kebangkrutan seperti Yunani, Spanyol atau Italia dan negara-negara Balkan yang miskin seperti Serbia.
Seorang mantan pengusaha di Yunani menawarkan ginjalnya € 100.000,- untuk menyelamatkan keluarganya supaya tidak jadi gelandangan. Menurutnya ia sampai menyewa seorang calo untuk mencari pembeli. Trend penjualan ilegal organ tubuh manusia bahkan dilaporkan sudah juga merembet ke Amerika.
Di banyak negara dan juga di Serbia transaksi gelap organ tubuh manusia, dilarang. Bisa divonis sampai 10 tahun penjara. Tapi ambruknya ekonomi ditambah lagi dengan lamanya menunggu giliran mendapat transplantasi organ tubuh yang legal di rumah sakit, menyuburkan perdagangan gelap. Tahun lalu dilaporkan hanya satu dari setiap tiga pasien yang menunggu transplantasi, mendapat ginjal yang baru di Serbia.
Kebutuhan mendesak dari dua belah pihak, tidak hanya pasien tapi juga warga yang dililit krisis ekonomi, bertemu lewat internet. € 100.000,- untuk sebuah ginjal ditambah biaya operasi dan ongkos perjalanan, bukan hal yang luar biasa.

Ditelpon dermawan

Nasib Ervin Balo (26 th) tukang kayu di Serbia timur laut yang dipecat tahun lalu, lebih baik. Ia ditelepon seorang dermawan yang menawarkan pekerjaan ketika Ervin muncul di televisi lokal bersama anaknya yang berumur 4 tahun. Ervin menawarkan ginjalnya untuk membiayai anak dan keluarganya.
Bagi Pavle Mircov dan Daniella, nasib Ervin Balo merupakan suatu mujizat. Krisis ekonomi yang kini melilit, membuat Pavle dan Danielle merindukan Tempo Doeloe di bekas negara Yugoslavia yang memberikan pendidikan gratis danpekerjaan seumur hidup.
"Sangat memalukan kalau orang sampai harus menjual organ tubuhnya untuk sesuap nasi. Tidak pernah terikirkan hal itu terjadi di jaman yang semakin modern ini," keluh Pavle Mircov seperti dikutip The International Herald Tribune.