This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
11 June, 2012 - 13:37

Kondisi di Kamp Pengasingan Korea Utara Mengkhawatirkan

  data/files/teaser-kamp.jpg

Kamp-kamp pengasingan di Korea Utara benar adanya. Kendati demikian, masyarakat internasional tampaknya menutup mata atas keberadaan kamp tempat laki-laki, perempuan dan anak-anak hidup sebagai budak.

Ilmuwan David Hawk dan pengungsi Korea Utara Kang Cheol-hwan, dalam kunjungan ke Brussel dan organisasi HAM PBB di Jenewa, menaruh perhatian pada kamp-kamp pengasingan tersebut.

Kamp Pengasingan Korea Utara

Koalisi Internasional untuk Menghentikan Kejahatan terhadap Kemanusiaan di Korea Utara (ICNK), yang didirikan September 2011, merupakan koalisi internasional pertama yang menggabungkan pelbagai organisasi HAM dari seantero dunia untuk melakukan kampanye global guna mengakhiri situasi HAM di Korea Utara yang sangat mengkhawatirkan itu.
Mereka menuntut masyarakat internasional supaya menjadikan situasi HAM topik utama dalam pendekatan mereka terhadap Korea Utara dan memobilisasi semua mekanisme HAM untuk mengakhiri keberadaan kamp-kamp politik tempat 200.000 warga Korea Utara ditahan dalam situasi tidak manusiawi.

Ketika laporan penyelidikan “The Hidden Gulags of North Korea” yang disusun pakar HAM Amerika David Hawk, terbit pada tahun 2003, Korea Selatan menampung sekitar 3000 pengungsi Korea Utara. Sejak itu jumlah pengungsi dari negeri tersebut bertambah dengan 20.000 orang, termasuk ratusan bekas tahanan dan bekas penjaga kamp.
Berkat pelbagai kesaksian yang telah diselidiki dengan cermat, maka kini ada gambaran lebih jelas tentang apa yang telah terjadi sepuluh tahun terakhir di kamp-kamp dan penjara-penjara Korea Utara.
Gambaran yang dideskripisikan dalam edisi kedua “The Hidden Gulag” (2012) itu bisa disebut suram. Laki-laki, perempuan dan anak-anak mulai dari usia enam tahun harus melakukan pekerjaan berat dalam apa yang disebut kamp pengasingan politik.
Secara sistematis mereka diberi makanan, pakaian dan fasilitas dasar  yang tidak memadai. Selain itu mereka berada di bawah rezim yang memuja kekerasan, penganiayaan dan pelecehan oleh penjaga kamp, ketimbang menghukumnya.
Jumlah korban jiwa sangat tinggi.
Kejahatan politik
Tersangka-tersangka politik bersama tiga generasi sanak keluarga “dicomot” dari masyarakat dan “menghilang” kemudian dijebloskan ke kamp. Tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tidak penting apakah seseorang melakukan tindak kejahatan politik atau diduga melakukan itu.
Kaitan dengan kejahatan politik!  Itu sudah cukup untuk memvonis orang penjara seumur hidup. Itu juga berlaku untuk sanak saudara dia.
Hal yang sama juga dialami Kang Cheol-hwan yang sebagai bocah sembilan tahun bersama orangtua dan adik perempuannya yang berusia tujuh tahun ditahan karena eyangnya diduga memiliki pemikiran anti revolusioner. Kang ditahan di kamp pengasingan terkenal, Yodok.
Sepuluh tahun kemudian ia pada 1992, ia dibebaskan. Ia mengungsi ke Korea Utara melalui Cina. Tujuannya: mengakhiri keberadaan kamp-kamp Korea Utara.
“Ketika saya tiba di Korea Selatan, saya marah karena adanya perbedaan besar antar kedua negara. Baru ketika itu saya menyadari bahwa saya kehilangan masa kecil sewaktu ditahan di kamp pengasingan. Sekarang saya terutama marah karena masih banyak warga Korea Utara yang mendekam di kamp-kamp tersebut. Saya tidak bisa melupakan itu. Saya harus berbuat apa saja untuk menyelamatkan mereka.”
Tapi pelanggaran HAM di Korea Utara hampir tidak berperan dalam diplomasi internasional. Jika memang sudah ada perundingan dengan Korea Utara, misalnya sewaktu perundingan enam partai, topik yang dibahas hanya program nuklir dan rudal.
Desas-desus
Kang memaklumi kekurangan perhatian untuk situasi HAM. “Korea Utara sedemikian terkucil, sehingga tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Tidak ada gambar-gambar tentang kamp-kamp tersebut. Yang ada hanya kesaksian pengungsi seperti saya sendiri. Kisah-kisah kami terlalu mengerikan untuk bisa dipercaya. Sebenarnya sama seperti Auschwitz di Perang Dunia II. Ketika itu ada desas-desus bahwa keberadaan kamp-kamp seperti itu benar adanya. Tapi baru ketika pasukan aliansi berdiri di depan pintu kamp-kamp tersebut, mereka melihat apa yang terjadi di sana.”
Peneliti David Hawk ingin mencegah agar kamp pengasingan baru ditutup kalau rezim komunis Korea Utara jatuh.
“Tujuan tur Eropa ini adalah untuk mencari negara-negara anggota yang mau mendesak PBB supaya dilakukan penyelidikan khusus tentang kamp pengasingan di Korea Utara. Di Jenewa kami berbicara dengan orang-orang PBB yang bisa melakukan penyelidikan itu. Tampaknya ini akan berhasil.”
Kakak hilang
Tur Eropa bertujuan untuk menjadikan tindak kejahatan Korea Utara terhadap rakyat sendiri menjadi butir agenda politik dalam perundingan internasional. “Hanya dengan cara itu, rezim yang sekarang bisa menyadari bahwa mereka – jika mau bergabung dengan negara-negara lain dunia - benar-benar harus mengakhiri kejadian seperti itu.”
Kang menceritakan kakak peremuannya “hilang” sejak akhir Mei. Dia seorang ibu rumah tangga di provinsi Hamyong. “Tapi sejak Mei kami tidak menerima kabar lagi dari dia. Kami menduga dia kembali berada di kamp, bersama anaknya.”
Koalisi Internasional untuk Menghentikan Kejahatan terhadap Kemanusiaan di Korea Utara (ICNK), yang didirikan September 2011, merupakan koalisi internasional pertama yang menggabungkan pelbagai organisasi HAM dari seantero dunia untuk melakukan kampanye global guna mengakhiri situasi HAM di Korea Utara yang sangat mengkhawatirkan itu. Mereka menuntut masyarakat internasional supaya situasi HAM menjadi topik utama dalam pendekatan mereka terhadap Korea Utara dan memobilisasi semua mekanisme HAM untuk mengakhiri keberadaan kamp-kamp politik tempat 200.000 warga Korea Utara ditahan dalam situasi tidak manusiawi.