“Waspadai lah orang asing,” itulah pendapat banyak warga Mesir. Turis disambut baik, boleh ikut minum teh atau makan siang. Tapi begitu anda mengajukan pertanyaan atau menjelaskan bahwa anda seorang wartawan, suasananya langsung berubah. Di Mesir ternyata tetap sulit membedakan wartawan dengan mata-mata.
Seorang laki-laki masuk kafe, memandang di sekelilingnya dan menghampiri sekelompok aktivis. Mereka menyambutnya dengan ramah dan langsung mengeluh soal kekurangan bahan bakar dan kerusuhan sosial.
Laki-laki tak dikenal itu duduk bersama mereka dan mengirim SMS. “Informasi penting, yang didapatkannya secara cuma-cuma,” kata sebuah voice over. “Yang benar?” ungkap si laki-laki tadi dalam bahasa Inggris.
Pesan video tadi berbunyi: Hati-hati dengan apa yang anda sampaikan kepada orang asing. Mereka bisa memata-matai anda dan semua yang anda katakan bisa dipakai terhadap anda.
Didatangi orang
Saya sebagai wartawati asing hampir setiap hari mengalami hal serupa di Kairo. Ketika saya bertanya kepada seorang perempuan di luar TPS, apa pendapat dia tentang pemilu, saya langsung didatangi orang yang menanyakan siapa saya dan mengapa saya mengajukan pertanyaan seperti itu.
Ketika saya berbincang-bincang dalam bahasa Arab dengan seorang pemuda tentang kekurangan pekerjaan serta kemungkinan untuk membangun keluarga, kami lagi-lagi diganggu. Seorang laki-laki muda berpakaian rapih dalam bahasa Inggris menceritakan kondisi ekonomi seseorang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemilu.
Dan ketika saya membuat foto - dengan izin orang yang difoto - saya dihampiri seseorang yang melarang saya membuat foto itu.
Media sosial
Pemuda-pemudi yang aktif di media sosial dan mengenal orang-orang di luar negeri, biasanya bersikap lebih terbuka. Lewat media sosial mereka memprotes keras kampanye televisi negara yang menghasut xenofobia. Film itu telah dicabut dari televisi satu pekan silam “karena oleh beberapa orang diinterpretasikan salah”.
Situs web satiris Elkoshary.com menulis artikel lucu tentang kampanye. “Tampaknya si pembuat dan atasannya sudah setahun tidak membaca koran-koran.”
Berakhirnya kampanye tersebut bukan berarti berakhirnya kebijakan anti luar negeri. “Hati-hati dengan apa yang anda ungkapkan. Bagi anda itu mungkin sesuatu yang tidak berarti, tapi bagi mereka itu bisa menjadi informasi penting.”
Peringatan
Gadis yang saya wawancarai baru-baru ini, mendapat peringatan serupa dari petugas keamanan yang bekerja di pusat perbelanjaan. Sewaktu saya mewawancarai dia di sebuah kafe, tiba-tiba muncul lah seseorang di samping meja kami yang menegaskan dilarang membuat rekaman di sana dan memohon kami ikut dia untuk berbicara.
Setelah diskusi panjang lebar dan pertunjukan kekuatan, si petugas keamanan mengiizinkan kami pergi, secara terpisah.
Di semua tingkat, pihak berwenang berusaha memperlebar jarak antara warga Mesir dan orang asing serta meningkatkan ketidakpercayaan antara keduanya. “Itu sangat wajar,” kata seorang pemuda di teras populer Al Boursa di Kairo.
“Seusai revolusi, situasi tidak stabil. Kekuatan asing berusaha memanfaatkan situasi tersebut. Kami harus berhati-hati.” Konyol, kata temannya. “Kami sebagai warga biasa memang tahu apa, sehingga bisa membuat mata-mata asing lebih ‘pintar’? Semuanya sudah diketahui umum, semuanya sudah ada di koran dan internet.”
Harus sabar
Ketika melaporkan situasi di Mesir, saya berusaha mewawancarai sebanyak mungkin orang guna memberi gambaran seimbang. Ketidakpercayaan di semua tingkat, membutuhkan daya tahan dan kesabaran saya.
Untunya saya tidak hanya berhadapan dengan ketidakpercayaan. Saya sering melakukan pembicaraan luar biasa dengan orang-orang ramah yang patut dikagumi. Orang yang tidak takut disalahgunakan oleh saya untuk menjatuhkan negaranya.