This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
28 June, 2012 - 11:00

Ranesi Berperan Penting di Zaman Soeharto

  data/files/rnw-gebouw.logo_.jpg

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

“Sewaktu datang di Belanda, saya kaget. Mungkin juga karena dingin dan angin. Itu musim dingin di sana. Tapi senang juga waktu datang, karena saya belum pernah tinggal di Eropa sebelumnya,” kata Joe Coman (72), laki-laki Australia yang menjabat Kepala Ranesi tahun 1990-1996.
Laki-laki yang oleh kru Ranesi juga akrab dipanggil “Pak Joko” ini tiba di Belanda awal Februari 1990.
Would you like to come?
Setelah diwawancarai anggota dari seksi Asia dan seksi Indonesia, pak Joko pulang ke Australia mengabari istri tercinta Allison dia diterima sebagai Kepala Seksi Indonesia.
“Saya bilang kepada istri saya Allison: ‘Allison saya akan ke Belanda. Would you like to come?’ Dia bilang ‘kapan?’ Saya bilang ‘bulan depan’. Jadi dalam waktu satu bulan sudah terurus semuanya dan kami pindah ke Belanda.”
Menjadi kepala seksi Indonesia sebenarnya bukan hal baru bagi Joe Coman. Pak Joko sebelumnya pun berpengalaman sebagai pemimpin seksi Indonesia di Radio Australia.
“Saya tidak datang di Belanda untuk mengulang apa yang disiarkan Radio Australia, karena Radio Australia kan lain, dekat dengan Indonesia dan juga siaran sembilan jam per hari. Radio Australia adalah stasiun radio yang cukup lama mengudara,” ceritanya ketika dihubungi Radio Nederland.
“Tapi yang khas mengenai Radio Nederland dan memang dipuji-puji oleh pendengar di Indonesia adalah siaran berita, pengetahuan dan acara-acara yang mengangkat kejadian di Indonesia waktu itu. Indonesia waktu itu kan tidak begitu terbuka dalam soal berita. Itu kan masih zaman Soeharto.”
Kekuatan Ranesi
Menurut pak Joko, itu lah yang menjadi kekuatan dari Ranesi, “karena bisa bebas menyiarkan apa yang terjadi di Indonesia, tanpa disensor. Selain itu anggota staf di Radio Nederland betul-betul menaruh minat terhadap apa yang terjadi di Indonesia, sehingga kami selalu mencari berita-berita yang masuk akal dan obyektif dibandingkan dengan apa yang disiarkan oleh stasiun radio di Indonesia yang dikendalikan oleh pemerintah.”
Setelah 6,5 tahun memimpin Ranesi, Joe Coman memutuskan kembali ke Australia. “Orangtuanya Allison tidak melihat anak dan dua cucu selama 6,5 tahun. Jadi mereka rindu juga.”
Alasan lain mengapa pak Joko memutuskan pulang ke Australia terkait dengan masalah tunjangan hari tua.
“Kalau saya tetap di Belanda, saya tidak mencapai pensiun yang mencukupi. Sedangkan di Australia, karena saya sudah 20 tahun di Radio Australia, masih ada harapan saya dapat pensiun yang mencukupi kebutuhan untuk orang yang berumur seperti saya. Jadi hanya untuk masa depan. Kalau Allison sama saya masih muda waktu itu, saya rasa kami akan tetap tinggal di Belanda.”
Pak Joko senang tinggal di Belanda karena dekat dengan negara-negara lain. “Kami pernah holiday, pergi cuti ke Inggris, ke Belgia dan Italia misalnya. Jadi semuanya dekat, sedangkan perjalanan ke Australia kan jauh sekali. Di ujung dunia kita ini.”
Kerja di Deplu
Walaupun sudah mencapai usia pensiun, Joe Coman masih tetap aktif bekerja, yaitu di Departemen Luar Negeri Australia. “Saya masih kerja full time di sana. Kalau ada delegasi datang dari pemerintah Indonesia, saya ikut sebagai penerjemah dan membantu mereka. Kadang-kadang saya juga ditugaskan ke Indonesia.”
Pak Joko misalnya pernah dikirim ke Timor Timur untuk membantu dalam pemberian pelatihan yang diadakan oleh Deplu Australia, sekaligus menjadi penerjemah.
“Ya begitulah karena pengalaman saya lah. Orang berumur seperti saya katakan tadi, saya sudah uzur, tetapi karena sudah begitu lama berkecimpung dalam bidang bahasa Indonesia, masih dianggap bergunalah bagi Departemen Luar Negeri.”
Internet
Joe Coman sangat menyayangkan keputusan untuk menghentikan semua kegiatan Radio Nederland Siaran Bahasa Indonesia.
“Sama halnya dengan Radio Australia yang dulu punya jam siaran cukup panjang di Indonesia melalui gelombang pendek. Tapi dewasa ini gelombang pendek hampir tidak pernah diikuti lagi oleh pendengar di Indonesia. Mereka punya komputer punya internet, punya stasiun radio, punya televisi. Jadi persaingan bagi siaran gelombang pendek di luar negeri begitu berat sehingga Radio Australia pun harus mengurangi drastis siaran langsung.”
Menurut pak Joko banyak sekali pendengar di Indonesia yang dibesarkan dengan siaran Ranesi.
“Jangan lupa bahwa pada suatu saat di Indonesia kan siaran radio ngak-ngik-ngok seperti yang disebut oleh Bung Karno dulu, musik rock and roll itu kan dilarang. Jadi itu ada untungnya bahwa pendengar di Indonesia mengikuti siaran gelombang pendek, dari Ranesi dan dari Radio Australia dulu juga.”
Mengakhiri percakapan dengan Radio Nederland, Joe Coman berkata:
“Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar. Mudah-mudahan kru Ranesi dapat pensiun dan sumbangan yang cukup dari Radio Nederland karena ini kan tidak diinginkan dan saya kira juga di luar dugaan. Salam buat semua orang yang saya kenal di Radio Nederland, di siaran bahasa Indonesia khususnya. Dan juga kepada orang-orang lain yang masih ingat bung Joko, wong Australia yang selama 6,5 tahun bergabung dengan Radio Nederland.”