This is the light edition of the RNW website. Click here for the full version.
28 June, 2012 - 10:50

Ranesi Beda Karena Independen dan Kritis

  data/files/heru_kbr_tabik_edited-1.jpg

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar. Kali ini giliran Heru Hendratmoko, pemimpin redaksi KBR 68H.

“Saya sendiri kehilangan, karena ditutupnya Radio Nederland adalah yang kesekian setelah Deutsche Welle menutup siarannya, BBC juga sudah mengurangi siarannya, dan sekarang Radio Nederland. Walaupun saya juga mengerti kebijakan pemerintah Eropa yang lagi krisis,” ujar Heru Hendratmoko pemimpin redaksi Kantor Berita radio atau KBR68H. Sejak tahun 2005, KBR 68H satu kali seminggu mengirim satu artikel yang dimuat di situs www.ranesi.nl
Indonesia memang saat ini sudah dikategorikan memiliki kebebasan pers atau ‘partly free’ sebagian bebas, tapi secara umum Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kategori ‘partly free’ ini adalah alasan mengapa pimpinan Radio Nederland menutup siaran dalam Bahasa Indonesia, serta memilih hanya aktif di negara-negara yang masih otoriter: Cina, Timur Tengah, Afrika dan sejumlah negara di Amerika Selatan.
“Kalau dulu di jaman Orde Baru kan kita melawan pemerintah yang didukung oleh militer, tapi sekarang lawannya pers itu lebih banyak, lebih menyebar. Tidak hanya dari pemerintah tapi juga dari kalangan kelompok-kelompok masyarakat sipil yang tidak menyukai kebebasan. Mereka menganggap pers sebagai ancaman,” ujar Heru. Karena itu keberadaan media asing di dalam negeri dianggapnya perlu, untuk dapat melihat dari kacamata lain situasi di Indonesia.

Punya pendengar tetap
Radio Nederland sudah memiliki pendengar tetap di Indonesia. Pemberitaannya menurut Heru, punya perspektif yang agak berbeda dari media dalam negeri. Apalagi kalau dibandingkan dengan dengan berbagai situs .com. Situs-situs ini tidak punya perhatian besar terhadap tema-tema yang justru menjadi sorotan khusus Ranesi misalnya masalah pelanggaran hak asasi manusia, LGBT, masalah Papua, Maluku dan sebagainya. “Radio Nederland cukup kritis dalam soal ini. Kalian mengangkat hal-hal yang tidak hanya dianggap tabu, tapi juga sulit diangkat.”
Heru melanjutkan, di awal reformasi tahun 1998 pers di Indonesia memang menikmati kebebasan yang luar biasa, terutama dari sisi pemberitaan dibandingkan masa Orde Baru. Tapi setelah itu muncul kelompok-kelompok yang disebutnya “menunggangi alam demokrasi, alam kebebasan untuk tujuan-tujuan mereka sendiri”. Kelompok-kelompok ini menentang pers bebas, menentang diskusi terbuka. Untuk mencapai hal tersebut kelompok-kelompok tersebut tak segan menggunakan tekanan fisik kepada media dan masyarakat.
Ditambahkan lagi, sewaktu-waktu kebebasan pers yang dinikmati di Indonesia sekarang, dan saat ini berada dalam ancaman, akan bisa berbalik menjadi seperti masa lalu lagi. “Saat ini pemerintah saya pikir tidak pro-aktif memberikan perlindungan kepada kebebasan yang sudah kita raih selama reformasi ini.”

Orientasi bisnis
Menurutnya banyak media dalam negeri yang orientasinya adalah bisnis. Karena itu dia kehilangan pemberitaaan Radio Nederland yang kritis. Ketika ditanya apakah peran ini bisa diganti dengan radio-radio lainnya di Indonesia yang sudah berani, Heru menjawab, “radio di Indonesia juga memiliki keterbatasan. Apalagi di kota-kota besar, sedikit sekali radio berita. Jadi radio yang bisa memproduksi berita-berita mereka sendiri. Kebanyakan dari mereka hanya merelay atau menyiarkan ulang apa yang sudah disiarkan oleh lembaga penyiaran yang lain.”
Menurut pemred KBR68H inilah problem utama radio di Indonesia. Mereka tidak bisa memproduksi beritanya sendiri. Alasannya karena mahalnya biaya. “Kalau anda mengelola radio dan memproduksi berita itu relatif lebih mahal dibandingkan radio yang menyajikan program-program misalnya hiburan. Acara hiburan hanya perlu menyediakan CD lagu atau apa. Ini pun bisa gratis karena mereka bekerjasama dengan label musik.”
Sebuah radio berita harus punya newsroom sendiri. Harus membayar wartawan, ada ongkos operasional dan lain sebagainya. Sementara pemasukan dari iklan malah jatuhnya ke radio yang bersifat hiburan. Itu menurut Heru adalah masalah utama.

Dikuasai oligarki
Kendala kedua menurutnya saat ini kelompok-kelompok media besar dikuasai oleh oligarki. Para pemilik media tidak hanya berprofesi sebagai pengusaha, tapi juga aktif di dunia politik. Media dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. “Itu sangat bisa dilihat sekarang ini. Terutama media yang di Jakarta dan jangkauan nasional, kelihatan sekali bagaimana aliran dan isi program dikontrol. Setidaknya agar tidak merugikan pemiliknya.”
Karena itu menurut Heru Hendratmoko, media asing seperti Radio Nederland bisa memberikan perspektif yang berbeda, karena mereka independen dan tidak memiliki kepentingan apa pun dengan para pemilik modal besar. “Saya kira itu kombinasi yang kita perlukan saat ini.”